IRAN, KOMPAS.TV - Gelombang unjuk rasa terus bergejolak di berbagai kota di Iran.
Warga geram karena inflasi meroket dan ekonomi merosot di bawah pemerintahan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Per 12 Januari 2026, protes tersebut telah menyebabkan sedikitnya 500 orang tewas, berdasarkan laporan Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat.
Unjuk rasa warga Iran ini telah bergulir sejak 28 Desember lalu.
Sementara itu, sedikitnya 10.000 orang ditangkap berdasarkan pemantauan di 186 kota yang tersebar di seluruh 31 provinsi Iran.
Di tengah gejolak protes yang kian panas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan tindakan terhadap Iran, menyusul demonstrasi yang menewaskan ratusan orang.
Merespons unjuk rasa warga, Presiden Iran Masoud Pezeshkian berjanji akan berupaya memulihkan stabilitas ekonomi.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei mengecam aksi demonstran yang disebutnya membahayakan keamanan nasional.
Ia menuding sejumlah demonstran mencoba menyenangkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kini, unjuk rasa besar-besaran yang mendukung pemerintah juga bergulir di berbagai wilayah Iran.
Parlemen Iran memperingatkan fasilitas militer Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah akan menjadi sasaran jika Amerika Serikat menyerang Iran.
Sebelumnya, pada Juni 2025 lalu, Amerika Serikat sempat menyerang sejumlah fasilitas nuklir di Iran saat konflik negara tersebut dengan Israel.
Baca Juga Memanas! Tercatat 544 Orang Tewas dalam Aksi Protes Nasional di Iran | SAPA PAGI di https://www.kompas.tv/internasional/643509/memanas-tercatat-544-orang-tewas-dalam-aksi-protes-nasional-di-iran-sapa-pagi
#as #iran #demonstrasi #demoiran #donaldtrump
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/643524/protes-berdarah-di-iran-trump-ancam-ambil-tindakan-usai-ratusan-demonstran-tewas-sapa-pagi